Kitab Umdatul Ahkam - Bab Tuma'ninah

★ *RESUME KAJIAN* ★
_*Masjid Jami' Aliyah Karawang*_

بسم اللّه الرّحمٰن الرّحيم

📒 Tema              : Kitab Umdatul Ahkam Bab Tuma'ninah
🎓 Pemateri        : Al-Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi,  Lc  _hafidzahullaah_
🕌 Tempat          : Masjid Jami' Aliyah Karawang
📅 Tanggal         : Ahad, 02 Jumadil Akhir1441 H/ 26 Januari 2020 M


*Muqoddimah*


ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ. ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ. ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤُﻮْﺗُﻦَّ ﺇِﻻَّ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻣُّﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ. ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﺗَّﻘُﻮْﺍ ﺭَﺑَّﻜُﻢُ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﻣِّﻦْ ﻧَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ ﻭَﺧَﻠَﻖَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺯَﻭْﺟَﻬَﺎ ﻭَﺑَﺚَّ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ ﺭِﺟَﺎﻻً ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ ﻭَﻧِﺴَﺂﺀً ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺗَﺴَﺂﺀَﻟُﻮْﻥَ ﺑِﻪِ ﻭَﺍْﻷَﺭْﺣَﺎﻡَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺭَﻗِﻴْﺒًﺎ. ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﻗُﻮْﻟُﻮْﺍ ﻗَﻮْﻻً ﺳَﺪِﻳْﺪًﺍ. ﻳُﺼْﻠِﺢْ ﻟَﻜُﻢْ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟَﻜُﻢْ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻜُﻢْ ﺫُﻧُﻮْﺑَﻜُﻢْ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻄِﻊِ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟَﻪُ ﻓَﻘَﺪْ ﻓَﺎﺯَ ﻓَﻮْﺯًﺍ ﻋَﻈِﻴْﻤًﺎ.   ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ؛ ﻓَﺈِﻥَّ ﺃَﺻْﺪَﻕَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﻬَﺪﻱِ ﻫَﺪْﻱُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻞَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻭَﺷَﺮَّ ﺍﻷُﻣُﻮْﺭِ ﻣُﺤَﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ، ﻭَﻛُﻞَّ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٍ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻭَﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟﺔٍ ﻭَﻛُﻞَّ ﺿَﻼَﻟَﺔٍ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ.

Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i rahimahullaah mengatakan,

كُلُّ الْعُلُوْمِ سِوَى الْقُرْآنِ مَشْغَلَةٌ،
إِلَّا الْـحَدِيْثَ وَإِلَّا الْفِقْهَ فِي الدِّيْنِ،
اَلْعِلْمُ مَا كَانَ فِيْهِ قَالَ حَدَّثَنَا،
 وَمَا سِوَى ذَاكَ وَسْوَاسُ الشَّيَاطِيْنِ.

Seluruh ilmu selain Al-Qur-an hanyalah menyibukkan,
kecuali ilmu hadits dan fiqih dalam rangka mendalami
ilmu agama.
Ilmu adalah yang tercantum di dalamnya: ‘Qaalaa, had-datsanaa (telah menyampaikan hadits kepada kami)’.
Adapun selain itu hanyalah was-was (bisikan) syaitan.
(Diiwaan Imam asy-Syafi’i  hal. 388, no. 206),

Imam Syafi'i menjelaskan ada 3 ilmu besar yakni,
Al-qur'an, hadits, dan fiqih, ini menunjukan bahwa beliau menasehati kita semua untuk memiliki perhatian dengan ilmu tersebut.

Allah izinkan memberi taufik kepada kita semua untuk membahas hadits yang ada di dalam kitab umdatul ahkam.
Karena Rasulullah diutus menjelaskan Al-qur'an
Allah subhanahu wata'ala berfirman:

بِالْبَيِّنٰتِ وَالزُّبُرِ  ۗ وَأَنْزَلْنَآ إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

"(mereka Kami utus) dengan membawa keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan Ad-Zikr (Al-Qur'an) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan."
(QS. An-Nahl 16: Ayat 44)

Rasul memiliki tugas memberikan penjelasan kepada kita tentang syariat agama Allah yang dengannya Allah utus Muhammad shallallahu alaihi wasallam, kita tidak mungkin mengetahui tauhid dan lawannya yaitu kesyirikan, sunnah dengan lawannya yaitu bid'ah, muamalah, ibadah kemudian tentang yang haq dan bathil, kecuali kembali kepada al-qur'an dan hadits beliau shallallahu alaihi wasallam.

Dan apa yg belia sabdakan bukan hawa nafsu
Allah subhanahu wata'ala berfirman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى، إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْىٌ يُوحٰى

"dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut keinginannya, sesungguhnya (Al-Qur'an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),"
(QS. An-Najm 53: Ayat 4)

Kita harus semangat belajar agama, mempelajari al-qur'an, mempelajari hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan bimbingan ulama, dengan ustadz yang mumpuni, dengan ustadz yang bermanhaj ahlussunnah wal jamaah dengan pemahaman salaful ummah, karena

لَنْ يُصْلِحَ آخِرَ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلاَّ مَا أَصْلَحَ أَوَّلَهَا

"Tidak akan bisa memperbaiki kondisi orang-orang yang datang kemudian dari umat ini kecuali dengan apa yang telah memperbaiki kondisi generasi awalnya."

Apa yang kita lihat dan baca di zaman sekarang dari kejadian apa yang ada di Indonesia maupun luar negeri membuat kita semakin yakin dengan agama islam yang Allah turunkan dan semakin yakin dengan manhaj ahlussunnah waljamaah dengan pemahaman salafus ummah.

Terdapat dua keadaan dimana kita dekat dengan majelis ilmu dan mudah untuk mempelajari agama agar menjadi orang yang waras, karena zaman sekarang kita jumpai di media sosial terdapat banyak sekali orang-orang aneh.
Muncul ada orang yang mengaku raja, munculnya kekaisaran matahari Sunda Empire, itu hal yang aneh namun banyak orang yang mengikuti orang aneh tersebut.

Subhanallaah..
Seorang ulama mengatakan
"Manusia itu seperti sekelompok burung, sebagiannya mengikuti sebagian yang lainnya, jika muncul di tengah mereka orang yang mengaku nabi walau mereka tahu Rasulullah adalah nabi terakhir, ada yang mengaku tuhan walau mereka mengetahui hanya Allah yang berhak diibadahi tetapi akan selalu ada orang yang mendukungnya"

Sehingga kita harus menuntut ilmu agar tidak menjadi orang-orang yang tidak waras tersebut,
Karena zaman sekarang ada juga dai-dai/ustadz palsu yang tidak duduk dengan ulama, mengandalkan retorika sedikit, modal lelucon tampil, lalu diangkat oleh masyarakat, kemudian mereka ditanya dan menjawab tanpa ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan.

Antum semua harus tahu mana ulama yg sesungguhnya dan ulama-ulamaan
Ibnul Jauzi katakan
"Orang alim menurut kacamata awam itu orang yang sudah naik di atas mimbar"

Inilah musibah, namun hal ini tidak ramai seperti ramainya kekaisaran palsu, inilah manusia jika ada ustadz palsu diam, justru kita katakan bahwa itu ustadz palsu, ketika kita mengucapkan maka mereka orang-orang bodoh mengatakan "wah iri soalnya tidak terkenal dan sebagainya".

Aneh, jangan heran, karena yang mengaku nabi saja masih ada pengikutnya apalagi orang yang membawa dalil dari al-qur'an dan hadits kemudian di poles dengan retorika den lelucon, ini terjadi!!
Oleh karena itu

"Tida tahu ulama kecuali ulama"
Semangatlah dalam menuntut ilmu teman-temanku sekalian.

Kita semakin yakin dengan islam, sekarang kita diberikan dengan berita munculnya virus corona, Laa hawla wa laa quwwata illa billaah

Diantara sebabnya adalah mereka memakan jenis makanan yang aneh-aneh seperti kelelawar, ular dan sebagian mereka memakannya hidup-hidup. Sehingga sebuah kota diisolasi sehingga tidak bebas, datang dan kemana-mana harus diperiksa dan menggunakn masker.

Benarlah apa yang Allah firmankan, jika kita lihat di dalam al-qur'an kita mengetahui bagaimana cara makan yang baik, di dalam surat Al-baqarah

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِى الْأَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ  ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

"Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 168)

Ular, kelelawar dan hewan buas dimakan, sedangkan yang baik dan halal masih banyak sekali, ini seperti orang yang kekurangan makanan.
Ketahuilah bahwasanya segala sesuatu yang Allah haramkan pasti ada keburukannya, nampak atau tidak tampak cepat atau lambat, dan islam sangat luar biasa telah mengatur seluruhnya dari yang halal dan haram.

*Pembahasan Kitab Umdatul Ahkam Bab Tuma'ninah*
Bab wajibnya tuma'ninah didalam ruku dan sujud.

◆ Apa itu Tuma'ninah?
Syaikh Mumammad bin Shalih al-utsaimin rahimahullah mengatakan Tuma'ninah yaitu ketenangan.
-bagaimana bentuknya? dimana semua persendian kembali kepada tempatnya.
◆*Apakah ada syarat tuma'ninah?*
Syaratnya adalah, ketika kita meletakkan setiap persendian pada tempatnya itu (di setiap gerakan) kita bisa membaca dzikir yang wajibnya.

Misal pada ruku dzikir yg wajibnya adalah
سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ

“Subhaana Rabbuyal 'azhim"
(artinya: Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung).

Yang wajibnya adalah membaca sekali, adapun lebih dari itu adalah sunnahnya.
Jika kita bisa tenang membacanya dan dengan kita pahami maknanya maka ini adalah tuma'ninah.

*📕 Hadits Tuma'ninah*

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَرَدَّ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَلَيْهِ السَّلاَمَ فَقَالَ « ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ » فَصَلَّى ، ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ » . ثَلاَثًا . فَقَالَ وَالَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقِّ فَمَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِى . قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masuk masjid, maka masuklah seseorang lalu ia melaksanakan shalat. Setelah itu, ia datang dan memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menjawab salamnya. Beliau berkata, “Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau belum shalat.” Lalu ia pun shalat dan datang lalu memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tetap berkata yang sama seperti sebelumnya, “Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Sampai diulangi hingga tiga kali. Orang yang jelek shalatnya tersebut berkata, “Demi yang mengutusmu membawa kebenaran, aku tidak bisa melakukan shalat sebaik dari itu. Makanya ajarilah aku!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengajarinya dan bersabda, “Jika engkau hendak shalat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al Qur’an yang mudah bagimu. Lalu ruku’lah dan sertai thuma’ninah ketika ruku’. Lalu bangkitlah dan beri’tidallah sambil berdiri. Kemudian sujudlah sertai thuma’ninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah dan duduk antara dua sujud sambil thuma’ninah. Kemudian sujud kembali sambil disertai thuma’ninah ketika sujud. Lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.”
(HR. Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397).

Kata para Ulama itu merupakan kecerdasan shahabat bisa dilihat dari perkataanya, dengan meminta di ajarkan agama dan tata cara shalat yang benar.

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ
Jika engkau berdiri hendak melakukan shalat, maka bertakbirlah,

Tidak boleh mengganti lafadz takbir "Allahu Akbar dengan lafadz yang lain walaupun maknanya sama, apalagi jika membacanya dengan menggunakan bahasa Indonesia"

ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ
"Baca dari yang mudah dari al-qur'an"

*Fatwa:* Apakah boleh Imam shalat membawa mushaf?
Sebagian ulama ada yang membolehkan dan menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-utsaimin rahimahullah mengatakan jangan melakukannya, karena Rasulullah bersabda bacalah dari apa yang mudah dsari Al-qur'an.
Beliau berdalil dengan ayat:

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

“maka bacalah ayat-ayat yang mudah dari Al Qur’an”
(QS. Al Muzammil: 20)

Rasulullah bersabda
ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ
"Baca dari yang mudah dari al-qur'an"

Jika kita buka mushaf banyak  kekurangannya
1. Cari ayat susah
2. Banyak gerakan
3. Pandangan tidak kepada tempat sujud, sunnahnya pandangan kepada tempat sujud.

ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ
"Kemudian tuma'ninah"
Karena jika tidak tuma'ninah tidak sah shalatnya karena

sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada salah shahabat yang melakukan shalatnya dengan tidak benar di atas :

ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ

Kembalilah dan shalatlah ! karena sesungguhnya engkau belum melakukan shalat.

menunjukkan perintah untuk thuma’ninah dapat dilihat pada hadits musii’ sholatuhu (orang yang jelek shalatnya).

Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَتِمُّوا الرُّكُوْعَ وَالسُّجُوْدَ

Sempurnakanlah ruku’ dan sujud kalian.
(HR. al-Bukhari,no. 6644 dan Muslim,no. 425)

Tuma’ninah dalam shalat itu termasuk salah satu rukun shalat. Shalat tidak dianggap sah tanpa ada thuma’ninah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan kepada salah seorang shahabat yang melakukan shalat dengan buruk :

*Tata Cara Shalat dengan Tuma'ninah*
dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا

Jika engkau berdiri hendak melakukan shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah ayat al-Qur’an yang mudah bagimu. Setelah itu, ruku’lah sampai engkau benar-benar ruku’ dengan thuma’nînah. Kemudian, bangunlah sampai engkau tegak berdiri, setelah itu, sujudlah sampai engkau benar-benar sujud dengan thuma’nînah. Kemudian, bangunlah sampai engkau benar-benar duduk dengan thuma’ninah. *Lakukanlah itu dalam shalatmu seluruhnya !*
(HR. al-Bukhari,no. 757 dan Muslim,no. 397)

Terdapat 2 makna yang dimaksud "Lakukanlah itu dalam shalatmu seluruhnya"
1. Dirakaat kedua dan seterusnya
2. Di shalat-shalat lainnya ketika dalam melakukan shalat.

*📝Faedah Hadits*
1️⃣. Rasulullah banyak berdiam diri di masjid

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:

وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ

seorang yang hatinya bergantung ke masjid
(HR. Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031)

Rasulullah banyak berdiam diri di masjid, Rasulullah memeras susu kambing untuk diberikan kepada keluarganya, Rasulullah memperbaiki sendalnya sendiri, Rasulullah menjahit pakaiannya sendiri.

Apapun kedudukan anda, jika datang ke rumah maka tinggalkan semua jabatan tersebut. Lihatlah Rasulullah adalah orang yang terbaik di muka bumi, paling mulia, paling Agung, pemimpin terbesar, namun masih melakukan demikian.

Ketahuilah bahwa lapangnya dada dan tenangnya hati merupakan sumber bahagia, dan pokok bahagia tersebut bisa diperoleh dengan iman dan amal shaleh.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صٰلِحًا مِّنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيٰوةً طَيِّبَةً  ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
(QS. An-Nahl 16: Ayat 97)

2️⃣. Perhatian Rasulullah terhadap ummatnya
Rasulullah mengetahui siapa yang datang ke masjid dan beserta yang dilakukannya.
3️⃣. Disunnahkan shalat ketika masuk masjid
Karena Rasulullah tidak mengingkari apa yang dilakukan shahabat tersebut, hanya saja yang beliau ingkari adalah cara shalat shahabat tadi yang tidak tuma'ninah, sehingga Rasulullah memerintahkannya untuk shalat kembali.
4️⃣. Disyariatkan mengucapkan salam kepada orang-orang yang duduk di masjid.
-jika ada orang masuk masjid dan di masjid tersebut terdapat majelis apakah salam atau tidak?
Sebagian ulama mengatakan tidak usah salam namun langsung duduk saja, karena khawatir mengganggu majelis tersebut.
5️⃣. Hendaknya orang yang ingin shalat menjauhkan diri dari orang yang ngobrol agar tidak mengganggu atau terganggu.
Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada salah shahabat yang melakukan shalatnya dengan tidak benar di atas :

ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ

Kembalilah dan shalatlah ! karena sesungguhnya engkau belum melakukan shalat.

6️⃣. Wajib mengulang ibadah bagi orang yang melakukannya dengan tidak sah.
Namun tidak ada istilah bayar hutang di dalam shalat.
7️⃣. Boleh mengulangi salam ketika ada sebabnya, sebagaimana shahabat mengucapkan salam sebanyak tiga kali.
8️⃣. Disyaratkan berdiri untuk shalat
إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ
"Jika engkau berdiri hendak melakukan shalat, maka bertakbirlah"
Kapan berdiri untuk shalat itu wajib? Ketika sanggup lakukan, namun jika imam berdiri makmum berdiri, dan ketika Imam duduk maka makmum pun ikut duduk.

Imam dijadikan sebagai pemimpin dan wajib diikuti dalam shalat, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu :

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلَا تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ فَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا وَإِذَا صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا أَجْمَعُونَ

“Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya imam hanya untuk diikuti, maka janganlah menyelisihnya. Apabila ia ruku’, maka ruku’lah. Dan bila ia mengatakan ‘sami’allahu liman hamidah’, maka katakanlah,’Rabbana walakal hamdu’. Apabila ia sujud, maka sujudlah. *Dan bila ia shalat dengan duduk, maka shalatlah dengan duduk semuanya”.*
(HR. Bukhari dan Muslim)

Apabila Imam shalat dalam keadaan duduk, maka makmum shalatnya duduk walaupun makmum mampu untuk berdiri.
9️⃣. Tidak sah mengucapkan lafadz takbir selain "Allaahu Akbar" tidak sah jika diganti dengan lafadz lain walaupun maknanya sama.
-Bagaimana untuk orang yang bisu?
Maka takbir di dalam hatinya.
🔟. Wajib membaca surat al-Fatihah

Tidak sah shalat tanpa membaca Al Fatihah. Diantara dalilnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam

لا صلاةَ لمن لم يقرأْ بفاتحةِ الكتابِ

“tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Faatihatul Kitaab (Al-Fatihah)”
(HR. Al Bukhari 756, Muslim 394)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إذا قمتَ إلى الصلاةِ فكَبِّرْ ، ثم اقرأْ ما تيسَّرَ معكَ من القرآنِ

“jika engkau berdiri untuk shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah apa yang engkau bisa dari ayat Al Qur’an..”
(HR. Al Bukhari 757, Muslim 397)

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

“maka bacalah ayat-ayat yang mudah dari Al Qur’an”
(QS. Al Muzammil: 20)

Kemudian jika seseorang sama sekali belum bisa membaca Al Qur’an, maka cukup membaca tasbih, tahmid, tahlil dan hauqalah untuk menggantikan Al Fatihah.
Hal ini berdasarkan hadits dari sahabat Ibnu Abi Aufa radhiallahu’anhu:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنِّي لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ آخُذَ شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ فَعَلِّمْنِي شَيْئًا يُجْزِئُنِي مِنَ الْقُرْآنِ. فَقَالَ: ” قُلْ: سُبْحَانَ اللَّهُ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهِ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ “

“seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam kemudian berkata: ‘saya tidak bisa membaca sedikitpun dari ayat Al Qur’an maka ajarkanlah saya sesuatu yang dapat mencukupinya’. Nabi bersabda: *‘katakanlah subhanallah, walhamdulillah, wa laailaha illallah, wallahu akbar, wa laa haula wa laa quwwata illa billah‘”*
(HR. Al Hakim 123, An Nasa-i 923, dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih An Nasa-i).


1️⃣1️⃣. Wajibnya ruku dan tuma'ninah di dalam ruku.
Dalam hal seperti ini terdapat 2 jenis orang;
a. Orang yang sudah bungkuk maka diniatkan di dalam hatinya
b. Orang yang sudah tidak bisa ruku, maka dengan menggunakan isyarat kepala

Allah Subhanahu wata'ala berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا

"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu"
(QS. At-Taghabun 64: Ayat 16)

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‘Apa saja yang aku larang terhadap kalian, maka jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian."
(Diriwayatkan oleh al-Bukhâri dan Muslim)

Allah Subhanahu wata'ala berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا  ۚ 
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 286)
1️⃣2️⃣. Wajib bangkit dari ruku'
1️⃣3️⃣. Wajibnya i'tidal
1️⃣4️⃣. Wajib Sujud dan tuma'ninah di dalam sujud
◆Sujud yang benar bagaimana caranya?

Dalam sebuah hadits dari shahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الجَبْهَةِ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَاليَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ، وَأَطْرَافِ القَدَمَيْنِ

“Aku diperintahkan untuk bersujud dengan bertumpu pada tujuh anggota badan: dahi –dan beliau berisyarat dengan menyentuhkan tangan ke hidung beliau, dua telapak tangan, dua lutut, dan ujung-ujung dua kaki…”
(HR. Bukhari 779 & Muslim 1126).

Berdasarkan hadis, tujuh anggota sujud dapat kita rinci:
-Dahi dan mencakup hidung.
-Dua telapak tangan.
-Dua lutut.
-Dua ujung-ujung kaki.

Note:
-Ketika takbir tangan biasa saja (tidak rapat dan tidak terlalu renggang)
-Ketika Sujud tangan rapat
-Ketika duduk diantara dua sujud tangan seperti mencengkram

1️⃣5️⃣. Wajib duduk diantara dua sujud dengan tuma'ninah
1️⃣6️⃣. Yang wajib dilakukan rakaat pertama maka wajib dilakukan setelahnya, namun ada yg tidak yaitu membaca do'a iftitah.
Karena membaca do'a iftitah merupakan sunnah dan dibaca ketika di rakaat pertama.
1️⃣7️⃣. Wajib tertib diantara rukun shalat.
       ┄┅═══•❃📖❃•═══┅┄


فَلْيُبَلِّغْ الشَاهِدُ الغَائِبَ

“Hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir.”
(HR. al-Bukhari dari Abu Bakar radhiyallahu 'anhu)

Semoga Allaah memberi petunjuk kepada kita semua untuk selalu ta'at kepadanya.
Wallaahu 'alam
Semoga Bermanfaat
بارك اللّه فيكم
Oleh : Doni Setio Pambudi (Abu Ubaidillah).★ *RESUME KAJIAN* ★
_*Masjid Jami' Aliyah Karawang*_

بسم اللّه الرّحمٰن الرّحيم

📒 Tema              : Kitab Umdatul Ahkam Bab Tuma'ninah
🎓 Pemateri        : Al-Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi,  Lc  _hafidzahullaah_
🕌 Tempat          : Masjid Jami' Aliyah Karawang
📅 Tanggal         : Ahad, 02 Jumadil Akhir1441 H/ 26 Januari 2020 M


*Muqoddimah*


ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻧَﺤْﻤَﺪُﻩُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻌِﻴْﻨُﻪُ ﻭَﻧَﺴْﺘَﻐْﻔِﺮُﻩْ ﻭَﻧَﻌُﻮﺫُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣِﻦْ ﺷُﺮُﻭْﺭِ ﺃَﻧْﻔُﺴِﻨَﺎ ﻭَﻣِﻦْ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺕِ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟِﻨَﺎ، ﻣَﻦْ ﻳَﻬْﺪِﻩِ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓَﻼَ ﻣُﻀِﻞَّ ﻟَﻪُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻀْﻠِﻞْ ﻓَﻼَ ﻫَﺎﺩِﻱَ ﻟَﻪُ. ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻭَﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﻋَﺒْﺪُﻩُ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟُﻪُ. ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬﺎَ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺣَﻖَّ ﺗُﻘَﺎﺗِﻪِ ﻭَﻻَ ﺗَﻤُﻮْﺗُﻦَّ ﺇِﻻَّ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻣُّﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ. ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﺗَّﻘُﻮْﺍ ﺭَﺑَّﻜُﻢُ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﻣِّﻦْ ﻧَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ ﻭَﺧَﻠَﻖَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺯَﻭْﺟَﻬَﺎ ﻭَﺑَﺚَّ ﻣِﻨْﻬُﻤَﺎ ﺭِﺟَﺎﻻً ﻛَﺜِﻴْﺮًﺍ ﻭَﻧِﺴَﺂﺀً ﻭَﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﺍﻟَّﺬِﻱْ ﺗَﺴَﺂﺀَﻟُﻮْﻥَ ﺑِﻪِ ﻭَﺍْﻷَﺭْﺣَﺎﻡَ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪَ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺭَﻗِﻴْﺒًﺎ. ﻳَﺎﺃَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺀَﺍﻣَﻨُﻮﺍ ﺍﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﻗُﻮْﻟُﻮْﺍ ﻗَﻮْﻻً ﺳَﺪِﻳْﺪًﺍ. ﻳُﺼْﻠِﺢْ ﻟَﻜُﻢْ ﺃَﻋْﻤَﺎﻟَﻜُﻢْ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻜُﻢْ ﺫُﻧُﻮْﺑَﻜُﻢْ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻄِﻊِ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮْﻟَﻪُ ﻓَﻘَﺪْ ﻓَﺎﺯَ ﻓَﻮْﺯًﺍ ﻋَﻈِﻴْﻤًﺎ.   ﺃَﻣَّﺎ ﺑَﻌْﺪُ؛ ﻓَﺈِﻥَّ ﺃَﺻْﺪَﻕَ ﺍﻟْﺤَﺪِﻳْﺚِ ﻛِﺘَﺎﺏُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﺍﻟْﻬَﺪﻱِ ﻫَﺪْﻱُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻞَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻭَﺷَﺮَّ ﺍﻷُﻣُﻮْﺭِ ﻣُﺤَﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ، ﻭَﻛُﻞَّ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺔٍ ﺑِﺪْﻋَﺔٌ ﻭَﻛُﻞَّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟﺔٍ ﻭَﻛُﻞَّ ﺿَﻼَﻟَﺔٍ ﻓِﻲ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ.

Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i rahimahullaah mengatakan,

كُلُّ الْعُلُوْمِ سِوَى الْقُرْآنِ مَشْغَلَةٌ،
إِلَّا الْـحَدِيْثَ وَإِلَّا الْفِقْهَ فِي الدِّيْنِ،
اَلْعِلْمُ مَا كَانَ فِيْهِ قَالَ حَدَّثَنَا،
 وَمَا سِوَى ذَاكَ وَسْوَاسُ الشَّيَاطِيْنِ.

Seluruh ilmu selain Al-Qur-an hanyalah menyibukkan,
kecuali ilmu hadits dan fiqih dalam rangka mendalami
ilmu agama.
Ilmu adalah yang tercantum di dalamnya: ‘Qaalaa, had-datsanaa (telah menyampaikan hadits kepada kami)’.
Adapun selain itu hanyalah was-was (bisikan) syaitan.
(Diiwaan Imam asy-Syafi’i  hal. 388, no. 206),

Imam Syafi'i menjelaskan ada 3 ilmu besar yakni,
Al-qur'an, hadits, dan fiqih, ini menunjukan bahwa beliau menasehati kita semua untuk memiliki perhatian dengan ilmu tersebut.

Allah izinkan memberi taufik kepada kita semua untuk membahas hadits yang ada di dalam kitab umdatul ahkam.
Karena Rasulullah diutus menjelaskan Al-qur'an
Allah subhanahu wata'ala berfirman:

بِالْبَيِّنٰتِ وَالزُّبُرِ  ۗ وَأَنْزَلْنَآ إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

"(mereka Kami utus) dengan membawa keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan Ad-Zikr (Al-Qur'an) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan."
(QS. An-Nahl 16: Ayat 44)

Rasul memiliki tugas memberikan penjelasan kepada kita tentang syariat agama Allah yang dengannya Allah utus Muhammad shallallahu alaihi wasallam, kita tidak mungkin mengetahui tauhid dan lawannya yaitu kesyirikan, sunnah dengan lawannya yaitu bid'ah, muamalah, ibadah kemudian tentang yang haq dan bathil, kecuali kembali kepada al-qur'an dan hadits beliau shallallahu alaihi wasallam.

Dan apa yg belia sabdakan bukan hawa nafsu
Allah subhanahu wata'ala berfirman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى، إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْىٌ يُوحٰى

"dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut keinginannya, sesungguhnya (Al-Qur'an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),"
(QS. An-Najm 53: Ayat 4)

Kita harus semangat belajar agama, mempelajari al-qur'an, mempelajari hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan bimbingan ulama, dengan ustadz yang mumpuni, dengan ustadz yang bermanhaj ahlussunnah wal jamaah dengan pemahaman salaful ummah, karena

لَنْ يُصْلِحَ آخِرَ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلاَّ مَا أَصْلَحَ أَوَّلَهَا

"Tidak akan bisa memperbaiki kondisi orang-orang yang datang kemudian dari umat ini kecuali dengan apa yang telah memperbaiki kondisi generasi awalnya."

Apa yang kita lihat dan baca di zaman sekarang dari kejadian apa yang ada di Indonesia maupun luar negeri membuat kita semakin yakin dengan agama islam yang Allah turunkan dan semakin yakin dengan manhaj ahlussunnah waljamaah dengan pemahaman salafus ummah.

Terdapat dua keadaan dimana kita dekat dengan majelis ilmu dan mudah untuk mempelajari agama agar menjadi orang yang waras, karena zaman sekarang kita jumpai di media sosial terdapat banyak sekali orang-orang aneh.
Muncul ada orang yang mengaku raja, munculnya kekaisaran matahari Sunda Empire, itu hal yang aneh namun banyak orang yang mengikuti orang aneh tersebut.

Subhanallaah..
Seorang ulama mengatakan
"Manusia itu seperti sekelompok burung, sebagiannya mengikuti sebagian yang lainnya, jika muncul di tengah mereka orang yang mengaku nabi walau mereka tahu Rasulullah adalah nabi terakhir, ada yang mengaku tuhan walau mereka mengetahui hanya Allah yang berhak diibadahi tetapi akan selalu ada orang yang mendukungnya"

Sehingga kita harus menuntut ilmu agar tidak menjadi orang-orang yang tidak waras tersebut,
Karena zaman sekarang ada juga dai-dai/ustadz palsu yang tidak duduk dengan ulama, mengandalkan retorika sedikit, modal lelucon tampil, lalu diangkat oleh masyarakat, kemudian mereka ditanya dan menjawab tanpa ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan.

Antum semua harus tahu mana ulama yg sesungguhnya dan ulama-ulamaan
Ibnul Jauzi katakan
"Orang alim menurut kacamata awam itu orang yang sudah naik di atas mimbar"

Inilah musibah, namun hal ini tidak ramai seperti ramainya kekaisaran palsu, inilah manusia jika ada ustadz palsu diam, justru kita katakan bahwa itu ustadz palsu, ketika kita mengucapkan maka mereka orang-orang bodoh mengatakan "wah iri soalnya tidak terkenal dan sebagainya".

Aneh, jangan heran, karena yang mengaku nabi saja masih ada pengikutnya apalagi orang yang membawa dalil dari al-qur'an dan hadits kemudian di poles dengan retorika den lelucon, ini terjadi!!
Oleh karena itu

"Tida tahu ulama kecuali ulama"
Semangatlah dalam menuntut ilmu teman-temanku sekalian.

Kita semakin yakin dengan islam, sekarang kita diberikan dengan berita munculnya virus corona, Laa hawla wa laa quwwata illa billaah

Diantara sebabnya adalah mereka memakan jenis makanan yang aneh-aneh seperti kelelawar, ular dan sebagian mereka memakannya hidup-hidup. Sehingga sebuah kota diisolasi sehingga tidak bebas, datang dan kemana-mana harus diperiksa dan menggunakn masker.

Benarlah apa yang Allah firmankan, jika kita lihat di dalam al-qur'an kita mengetahui bagaimana cara makan yang baik, di dalam surat Al-baqarah

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

يٰٓأَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِى الْأَرْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ  ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

"Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 168)

Ular, kelelawar dan hewan buas dimakan, sedangkan yang baik dan halal masih banyak sekali, ini seperti orang yang kekurangan makanan.
Ketahuilah bahwasanya segala sesuatu yang Allah haramkan pasti ada keburukannya, nampak atau tidak tampak cepat atau lambat, dan islam sangat luar biasa telah mengatur seluruhnya dari yang halal dan haram.

*Pembahasan Kitab Umdatul Ahkam Bab Tuma'ninah*
Bab wajibnya tuma'ninah didalam ruku dan sujud.

◆ Apa itu Tuma'ninah?
Syaikh Mumammad bin Shalih al-utsaimin rahimahullah mengatakan Tuma'ninah yaitu ketenangan.
-bagaimana bentuknya? dimana semua persendian kembali kepada tempatnya.
◆*Apakah ada syarat tuma'ninah?*
Syaratnya adalah, ketika kita meletakkan setiap persendian pada tempatnya itu (di setiap gerakan) kita bisa membaca dzikir yang wajibnya.

Misal pada ruku dzikir yg wajibnya adalah
سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ

“Subhaana Rabbuyal 'azhim"
(artinya: Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung).

Yang wajibnya adalah membaca sekali, adapun lebih dari itu adalah sunnahnya.
Jika kita bisa tenang membacanya dan dengan kita pahami maknanya maka ini adalah tuma'ninah.

*📕 Hadits Tuma'ninah*

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَرَدَّ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَلَيْهِ السَّلاَمَ فَقَالَ « ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ » فَصَلَّى ، ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ » . ثَلاَثًا . فَقَالَ وَالَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقِّ فَمَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِى . قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masuk masjid, maka masuklah seseorang lalu ia melaksanakan shalat. Setelah itu, ia datang dan memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menjawab salamnya. Beliau berkata, “Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau belum shalat.” Lalu ia pun shalat dan datang lalu memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tetap berkata yang sama seperti sebelumnya, “Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Sampai diulangi hingga tiga kali. Orang yang jelek shalatnya tersebut berkata, “Demi yang mengutusmu membawa kebenaran, aku tidak bisa melakukan shalat sebaik dari itu. Makanya ajarilah aku!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengajarinya dan bersabda, “Jika engkau hendak shalat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al Qur’an yang mudah bagimu. Lalu ruku’lah dan sertai thuma’ninah ketika ruku’. Lalu bangkitlah dan beri’tidallah sambil berdiri. Kemudian sujudlah sertai thuma’ninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah dan duduk antara dua sujud sambil thuma’ninah. Kemudian sujud kembali sambil disertai thuma’ninah ketika sujud. Lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.”
(HR. Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397).

Kata para Ulama itu merupakan kecerdasan shahabat bisa dilihat dari perkataanya, dengan meminta di ajarkan agama dan tata cara shalat yang benar.

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ
Jika engkau berdiri hendak melakukan shalat, maka bertakbirlah,

Tidak boleh mengganti lafadz takbir "Allahu Akbar dengan lafadz yang lain walaupun maknanya sama, apalagi jika membacanya dengan menggunakan bahasa Indonesia"

ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ
"Baca dari yang mudah dari al-qur'an"

*Fatwa:* Apakah boleh Imam shalat membawa mushaf?
Sebagian ulama ada yang membolehkan dan menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-utsaimin rahimahullah mengatakan jangan melakukannya, karena Rasulullah bersabda bacalah dari apa yang mudah dsari Al-qur'an.
Beliau berdalil dengan ayat:

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

“maka bacalah ayat-ayat yang mudah dari Al Qur’an”
(QS. Al Muzammil: 20)

Rasulullah bersabda
ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ
"Baca dari yang mudah dari al-qur'an"

Jika kita buka mushaf banyak  kekurangannya
1. Cari ayat susah
2. Banyak gerakan
3. Pandangan tidak kepada tempat sujud, sunnahnya pandangan kepada tempat sujud.

ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ
"Kemudian tuma'ninah"
Karena jika tidak tuma'ninah tidak sah shalatnya karena

sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada salah shahabat yang melakukan shalatnya dengan tidak benar di atas :

ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ

Kembalilah dan shalatlah ! karena sesungguhnya engkau belum melakukan shalat.

menunjukkan perintah untuk thuma’ninah dapat dilihat pada hadits musii’ sholatuhu (orang yang jelek shalatnya).

Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَتِمُّوا الرُّكُوْعَ وَالسُّجُوْدَ

Sempurnakanlah ruku’ dan sujud kalian.
(HR. al-Bukhari,no. 6644 dan Muslim,no. 425)

Tuma’ninah dalam shalat itu termasuk salah satu rukun shalat. Shalat tidak dianggap sah tanpa ada thuma’ninah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan kepada salah seorang shahabat yang melakukan shalat dengan buruk :

*Tata Cara Shalat dengan Tuma'ninah*
dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu anhu

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا

Jika engkau berdiri hendak melakukan shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah ayat al-Qur’an yang mudah bagimu. Setelah itu, ruku’lah sampai engkau benar-benar ruku’ dengan thuma’nînah. Kemudian, bangunlah sampai engkau tegak berdiri, setelah itu, sujudlah sampai engkau benar-benar sujud dengan thuma’nînah. Kemudian, bangunlah sampai engkau benar-benar duduk dengan thuma’ninah. *Lakukanlah itu dalam shalatmu seluruhnya !*
(HR. al-Bukhari,no. 757 dan Muslim,no. 397)

Terdapat 2 makna yang dimaksud "Lakukanlah itu dalam shalatmu seluruhnya"
1. Dirakaat kedua dan seterusnya
2. Di shalat-shalat lainnya ketika dalam melakukan shalat.

*📝Faedah Hadits*
1️⃣. Rasulullah banyak berdiam diri di masjid

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:

وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ

seorang yang hatinya bergantung ke masjid
(HR. Bukhari, no. 1423 dan Muslim, no. 1031)

Rasulullah banyak berdiam diri di masjid, Rasulullah memeras susu kambing untuk diberikan kepada keluarganya, Rasulullah memperbaiki sendalnya sendiri, Rasulullah menjahit pakaiannya sendiri.

Apapun kedudukan anda, jika datang ke rumah maka tinggalkan semua jabatan tersebut. Lihatlah Rasulullah adalah orang yang terbaik di muka bumi, paling mulia, paling Agung, pemimpin terbesar, namun masih melakukan demikian.

Ketahuilah bahwa lapangnya dada dan tenangnya hati merupakan sumber bahagia, dan pokok bahagia tersebut bisa diperoleh dengan iman dan amal shaleh.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صٰلِحًا مِّنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيٰوةً طَيِّبَةً  ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
(QS. An-Nahl 16: Ayat 97)

2️⃣. Perhatian Rasulullah terhadap ummatnya
Rasulullah mengetahui siapa yang datang ke masjid dan beserta yang dilakukannya.
3️⃣. Disunnahkan shalat ketika masuk masjid
Karena Rasulullah tidak mengingkari apa yang dilakukan shahabat tersebut, hanya saja yang beliau ingkari adalah cara shalat shahabat tadi yang tidak tuma'ninah, sehingga Rasulullah memerintahkannya untuk shalat kembali.
4️⃣. Disyariatkan mengucapkan salam kepada orang-orang yang duduk di masjid.
-jika ada orang masuk masjid dan di masjid tersebut terdapat majelis apakah salam atau tidak?
Sebagian ulama mengatakan tidak usah salam namun langsung duduk saja, karena khawatir mengganggu majelis tersebut.
5️⃣. Hendaknya orang yang ingin shalat menjauhkan diri dari orang yang ngobrol agar tidak mengganggu atau terganggu.
Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada salah shahabat yang melakukan shalatnya dengan tidak benar di atas :

ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ

Kembalilah dan shalatlah ! karena sesungguhnya engkau belum melakukan shalat.

6️⃣. Wajib mengulang ibadah bagi orang yang melakukannya dengan tidak sah.
Namun tidak ada istilah bayar hutang di dalam shalat.
7️⃣. Boleh mengulangi salam ketika ada sebabnya, sebagaimana shahabat mengucapkan salam sebanyak tiga kali.
8️⃣. Disyaratkan berdiri untuk shalat
إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ
"Jika engkau berdiri hendak melakukan shalat, maka bertakbirlah"
Kapan berdiri untuk shalat itu wajib? Ketika sanggup lakukan, namun jika imam berdiri makmum berdiri, dan ketika Imam duduk maka makmum pun ikut duduk.

Imam dijadikan sebagai pemimpin dan wajib diikuti dalam shalat, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu :

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلَا تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ فَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا وَإِذَا صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا أَجْمَعُونَ

“Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya imam hanya untuk diikuti, maka janganlah menyelisihnya. Apabila ia ruku’, maka ruku’lah. Dan bila ia mengatakan ‘sami’allahu liman hamidah’, maka katakanlah,’Rabbana walakal hamdu’. Apabila ia sujud, maka sujudlah. *Dan bila ia shalat dengan duduk, maka shalatlah dengan duduk semuanya”.*
(HR. Bukhari dan Muslim)

Apabila Imam shalat dalam keadaan duduk, maka makmum shalatnya duduk walaupun makmum mampu untuk berdiri.
9️⃣. Tidak sah mengucapkan lafadz takbir selain "Allaahu Akbar" tidak sah jika diganti dengan lafadz lain walaupun maknanya sama.
-Bagaimana untuk orang yang bisu?
Maka takbir di dalam hatinya.
🔟. Wajib membaca surat al-Fatihah

Tidak sah shalat tanpa membaca Al Fatihah. Diantara dalilnya adalah sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam

لا صلاةَ لمن لم يقرأْ بفاتحةِ الكتابِ

“tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Faatihatul Kitaab (Al-Fatihah)”
(HR. Al Bukhari 756, Muslim 394)

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إذا قمتَ إلى الصلاةِ فكَبِّرْ ، ثم اقرأْ ما تيسَّرَ معكَ من القرآنِ

“jika engkau berdiri untuk shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah apa yang engkau bisa dari ayat Al Qur’an..”
(HR. Al Bukhari 757, Muslim 397)

فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ

“maka bacalah ayat-ayat yang mudah dari Al Qur’an”
(QS. Al Muzammil: 20)

Kemudian jika seseorang sama sekali belum bisa membaca Al Qur’an, maka cukup membaca tasbih, tahmid, tahlil dan hauqalah untuk menggantikan Al Fatihah.
Hal ini berdasarkan hadits dari sahabat Ibnu Abi Aufa radhiallahu’anhu:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: إِنِّي لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ آخُذَ شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ فَعَلِّمْنِي شَيْئًا يُجْزِئُنِي مِنَ الْقُرْآنِ. فَقَالَ: ” قُلْ: سُبْحَانَ اللَّهُ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهِ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ “

“seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam kemudian berkata: ‘saya tidak bisa membaca sedikitpun dari ayat Al Qur’an maka ajarkanlah saya sesuatu yang dapat mencukupinya’. Nabi bersabda: *‘katakanlah subhanallah, walhamdulillah, wa laailaha illallah, wallahu akbar, wa laa haula wa laa quwwata illa billah‘”*
(HR. Al Hakim 123, An Nasa-i 923, dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih An Nasa-i).


1️⃣1️⃣. Wajibnya ruku dan tuma'ninah di dalam ruku.
Dalam hal seperti ini terdapat 2 jenis orang;
a. Orang yang sudah bungkuk maka diniatkan di dalam hatinya
b. Orang yang sudah tidak bisa ruku, maka dengan menggunakan isyarat kepala

Allah Subhanahu wata'ala berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا

"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu"
(QS. At-Taghabun 64: Ayat 16)

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوْهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوْا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‘Apa saja yang aku larang terhadap kalian, maka jauhilah. Dan apa saja yang aku perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah semampu kalian."
(Diriwayatkan oleh al-Bukhâri dan Muslim)

Allah Subhanahu wata'ala berfirman:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا  ۚ 
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 286)
1️⃣2️⃣. Wajib bangkit dari ruku'
1️⃣3️⃣. Wajibnya i'tidal
1️⃣4️⃣. Wajib Sujud dan tuma'ninah di dalam sujud
◆Sujud yang benar bagaimana caranya?

Dalam sebuah hadits dari shahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الجَبْهَةِ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَاليَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ، وَأَطْرَافِ القَدَمَيْنِ

“Aku diperintahkan untuk bersujud dengan bertumpu pada tujuh anggota badan: dahi –dan beliau berisyarat dengan menyentuhkan tangan ke hidung beliau, dua telapak tangan, dua lutut, dan ujung-ujung dua kaki…”
(HR. Bukhari 779 & Muslim 1126).

Berdasarkan hadis, tujuh anggota sujud dapat kita rinci:
-Dahi dan mencakup hidung.
-Dua telapak tangan.
-Dua lutut.
-Dua ujung-ujung kaki.

Note:
-Ketika takbir tangan biasa saja (tidak rapat dan tidak terlalu renggang)
-Ketika Sujud tangan rapat
-Ketika duduk diantara dua sujud tangan seperti mencengkram

1️⃣5️⃣. Wajib duduk diantara dua sujud dengan tuma'ninah
1️⃣6️⃣. Yang wajib dilakukan rakaat pertama maka wajib dilakukan setelahnya, namun ada yg tidak yaitu membaca do'a iftitah.
Karena membaca do'a iftitah merupakan sunnah dan dibaca ketika di rakaat pertama.
1️⃣7️⃣. Wajib tertib diantara rukun shalat.
       ┄┅═══•❃📖❃•═══┅┄


فَلْيُبَلِّغْ الشَاهِدُ الغَائِبَ

“Hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir.”
(HR. al-Bukhari dari Abu Bakar radhiyallahu 'anhu)

Semoga Allaah memberi petunjuk kepada kita semua untuk selalu ta'at kepadanya.
Wallaahu 'alam
Semoga Bermanfaat
بارك اللّه فيكم
Oleh : Doni Setio Pambudi (Abu Ubaidillah).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Pembatalan Keislaman

Sabarlah