Sabarlah
● *RESUME KAJIAN* ●
_*Masjid Al-Muchtar Karawang*_
بسم اللّه الرّحمٰن الرّحيم
📒Tema : Sabarlah..
🎓Pemateri : Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc, MA. _hafizhahullaah_
🕌 Tempat : Masjid Al-Muchtar Galuh Mas Karawang
📅 Tanggal : Sabtu, 07 Jumdil 'Ula 1441 H/ 04 Januari 2020 M
*Muqoddimah*
عَن عَطَاءُ بْنُ أَبِى رَبَاحٍ قَالَ قَالَ لِى ابْنُ عَبَّاسٍ أَلاَ أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى . قَالَ هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ إِنِّى أُصْرَعُ ، وَإِنِّى أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِى . قَالَ « إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ » . فَقَالَتْ أَصْبِرُ . فَقَالَتْ إِنِّى أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ ، فَدَعَا لَهَا
Dari ‘Atho’ bin Abi Robaah, ia berkata bahwa Ibnu ‘Abbas berkata padanya, “Maukah kutunjukkan wanita yang termasuk penduduk surga?” ‘Atho menjawab, “Iya mau.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Wanita yang berkulit hitam ini, ia pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas ia pun berkata, “Aku menderita penyakit ayan dan auratku sering terbuka karenanya. Berdo’alah pada Allah untukku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Jika mau sabar, bagimu surga. Jika engkau mau, aku akan berdo’a pada Allah supaya menyembuhkanmu.” Wanita itu pun berkata, “Aku memilih bersabar.” Lalu ia berkata pula, “Auratku biasa tersingkap (kala aku terkena ayan). Berdo’alah pada Allah supaya auratku tidak terbuka.” Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun berdo’a pada Allah untuk wanita tersebut.
(HR. Bukhari no. 5652 dan Muslim no. 2576).
Ini merupakan contoh wanita penghuni surga yang ingin masuk surga karena kesabaran, ia memilih untuk sabar daripada disembuhkan dari sebuah penyakit yang dialaminya, karena wanita tersebut mengetahui bahwa dibalik kesabaran terdapat surga yang telah dijanjikan kepadanya. Ini merupakan dalil bahwa kesabaran dapat mendatangkan surga.
Ketika Allah memuji sifat Ibadurrahman pada surat Al-furqan.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
أُولٰٓئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلٰمًا
"Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka, dan di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam,"
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 75)
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولٰٓئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ
"Dan orang yang sabar karena mengharap keridaan Tuhannya, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),"
(QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 22)
جَنّٰتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ ءَابَآئِهِمْ وَأَزْوٰجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰٓئِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍ
"(yaitu) surga-surga 'Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;"
(QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 23)
سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
"(sambil mengucapkan), Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu. Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu."
(QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 24)
Ini merupakan dalil bahwa kesabaran dapat mendatangkan surga, begitu banyak ayat-ayat di dalam al-qur'an yang menjelaskan tentang kesabaran hingga
Imam Ahmad rahimahullah berkata,
*"Di dalam al-Qur’an kata sabar disebutkan dalam 90 tempat lebih.* Sabar adalah bagian iman, sebagaimana kedudukan kepala bagi jasad. Sebab orang yang tidak punya kesabaran dalam menjalankan ketaatan, tidak punya kesabaran untuk menjauhi maksiat serta tidak sabar tatkala tertimpa takdir yang menyakitkan maka dia kehilangan banyak sekali bagian keimanan”
Ketahuilah bahwasannya satu ayat saja disebutk
an di dalam al-qur'an menunjukkan bahwa itu adalah ibadah yang agung lantas bagaimana jika disebutkan di dalam 90 tempat lebih?
Sehingga kesabaran merupakan ibadah yang Agung karena hidup di dunia ini penuh dengan ujian dan kita diciptakan oleh Allah hidup di dunia ini untuk diuji, mustahil jika ada seseorang hidup di dunia ini terlepas dari ujian karena Allah sendiri yang mengatakannya,
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
تَبٰرَكَ الَّذِى بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
"Maha Suci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,"
(QS. Al-Mulk 67: Ayat 1)
الَّذِى خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
"yang menciptakan mati dan hidup, *untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.* Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun,"
(QS. Al-Mulk 67: Ayat 2)
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
وَهُوَ الَّذِي خَلَق السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاء لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً
“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arasy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya”
(QS. Huud 11: Ayat 7)
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
"Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik amalannya."
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 7)
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan"
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 35)
Selama kita hidup di dunia ini kita pasti tidak terlepas dari namanya ujian baik itu ujian keburukan, kemewahan, kemiskinan, kesusahan, harta, kesehatan kepintaran, dan yang lainnya, namun Allah mengingatkan bahwa kita akan dikembalikan untuk dimintai pertanggung jawaban.
Sebagian orang ada yang diuji dengan istrinya, ada yang diuji oleh orang tuanya, ada pula yang diuji oleh ibu mertuanya dan sebagainya.
Ada seorang wanita diuji dengan kesendiriannya *(jomblowati)*, ada pula wanita yang diuji dengan suami yang tidak bertanggung jawab, ada wanita yang diuji dengan belum memiliki seorang anak, ada wanita yang diuji oleh anaknya yang nakal dan terus-terus akan diuji,
Apalagi jika seorang beriman maka lebih dijadikan ujian oleh Allah, Allah subhanahu wata'ala berfirman:
الٓمٓ، أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوٓا أَنْ يَقُولُوٓا ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ، وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِينَ
"Alif Lam Mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, Kami telah beriman dan mereka tidak diuji?
Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta."
(QS. Al-'Ankabut 29: Ayat 1-3)
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَآءُ وَالضَّرَّآءُ وَزُلْزِلُوا حَتّٰى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُۥ مَتٰى نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَآ إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
"Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, Kapankah datang pertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 214)
Inilah tabiat kehidupan, bahwa tidak ada yang tidak Allah uji di dalam kehidupan ini, sehingga kita harus siap kapan
pun untuk di uji.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
لَآ أُقْسِمُ بِهٰذَا الْبَلَدِ، وَأَنْتَ حِلٌّۢ بِهٰذَا الْبَلَدِ، وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ، لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسٰنَ فِى كَبَدٍ
"Aku bersumpah dengan negeri ini (Mekah),
dan engkau (Muhammad), bertempat di negeri (Mekah) ini, dan demi (pertalian) bapak dan anaknya. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah."
(QS. Al-Balad 90: Ayat 1-4)
*APA ITU SABAR?*
Sabar artinya adalah "menahan", menahan hati, menahan lisan, dan menahan anggota badan.
Jangan sampai mengucapkan kata-kata protes dari apa yang Allah tetapkan,
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُوْدَ أَوْ شَقَّ الْجُيُوْبَ أَوْ دَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ
“Tidaklah termasuk golongan kami orang yang menampar pipi atau merobek-robek pakaian atau berteriak dengan teriakan Jahiliyah”.
(HR. Bukhari dah Muslim)
Ini menunjukkan bahwa orang tersebut tidaklah sabar, jika seseorang bisa menahan dari meronta-ronta maka baru dikatakan sabar karena ibadah sabar merupakan anugerah terbesar yang Allah berikan kepada seorang hamba,
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ
"Barangsiapa yang sungguh-sungguh berusaha untuk bersabar maka Allah akan memudahkan kesabaran baginya. Dan tidaklah sesorang dianugerahkan (oleh Allah subhanahu wat’ala ) pemberian yang lebih baik dan lebih luas (keutamaannya) dari pada (sifat) sabar."
(HR. Bukhari, 6105 dan Muslim, 1053)
Orang yang bersabar memperoleh pahala tanpa batas, Allah subhanahu wata'ala berfirman:
قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِى هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
"Katakanlah (Muhammad), Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu. Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan Bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas."
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 10)
*BENTUK-BENTUK SABAR*
Sabar dapat dibagi menjadi tiga macam:
1. Sabar dalam melaksanakan perintah dan ketaatan.
2. Sabar dalam menahan diri dari perbuatan dosa dan maksiat.
3. Sabar dalam menghadapi musibah.
Menahan hati dari perasaan marah, kesal, terhadap ketentuan Allah.
Menahan lisan dari berkeluh kesah dan menggerutu akan takdir Allah.
Menahan anggota badan dari bermaksiat seperti menyobek pakaian atau perbuatan lain yang menunjukkan sikap ‘tidak terima’ terhadap keputusan Allah.
◆Ini disebutkan oleh para ulama, mana yang lebih baik? Terdapat khilaf para ulama
Ada yang mengatakan sabar menjalankan ketaatan dan meninggalkan maksiat lebih baik dibandingkan sabar ketika menghadapi musibah, kenapa demikian?
Karena jika sabar menjalankan ketaatan dan meninggalkan maksiat merupakan sabar pilihan, adapun sabar menghadapi musibah merupakan sabar terpaksa sehingga harus menjalankannya mau tidak mau.
*Contoh :*
◆Orang yang bersabar melakukan ketaatan ketika bangun subuh, maka disini terdapat pilihan dimana ia bisa bangun untuk shalat subuh dan dia bisa lanjut untuk tidur kembali, jika dia pergi shalat maka dia telah bersabar dalam melaksanakan ketaatan.
◆Orang yang bersabar meninggalkan maksiat dimana dia memiliki celah untuk melihat situs yang haram di internet yang ada di HP, namun ia memilih untuk meninggalkannya dibandingkan menontonnya maka ia telah bersabar dalam melakukan ketaatan.
Adapun sabar ketika tertimpa musibah merupakan sabar yang terpaksa dan tidak memiliki pilihan, mau tidak mau harus menerima musibah tersebut dan tidak bisa menolaknya.
Sehingga dari sisi ini sabar melaksanakan ketaatan dan meninggalkan maksiat ini lebih afdhal dibandingkan sabar ketika menimpa musibah.
Sebagaimana sabar nabi Yusuf ketika digoda oleh istri penguasa Mesir saat itu lebih afdhal dibandingkan ia dimasukkan ke dalam sumur dan juga dipenjara, karena sabar ketika digoda oleh istri penguasa terdapat sebuah pili
han.
Namun, jika tinjau dari kenyataa ini tidak mesti,
Sebagai contoh bid'ah lebih buruk dari maksiat kenapa?
karena orang yang melakukan bid'ah tidak merasa bahwa dirinya bersalah, ia menganggap dirinya benar namun orang melakukan maksiat menyadari bahwa dirinya salah dan suatu saat bisa bertaubat.
Dari sisi jenis bidah lebih buruk daripada maksiat,
Namun dari sisi praktek bisa saja tidak demikian, sebagai contoh orang yang melakukan maksiat zina bisa lebih buruk daripada berbuat bid'ah tahlilan, sehingga orang yang melakukan zina (bagi yang sudah menikah) harus di rajam sampai mati dsb, dan ketahuilah suatu perbuatan dosa yang bisa dihukumi sampai mati merupakan dosa yang besar.
Kesabaran dalam menahan ketaatan lebih afdahl dari musibah karena taat merupakan pilihan,
Sama seperti halnya orang yang berzuhud, maka orang yang tidak memiliki uang (miskin) pasti melakukan zuhud karena ia terpaksa karena tidak memiliki uang, berbeda dengan halnya orang yang memiliki harta namun ia tetap zuhud dan bersedekah, maka inilah sabar yang pilihan.
Namun di dalam praktek, bisa jadi sabar menghadapi musibah lebih afdhal daripada sabar melakukan ketaatan atau meninggalkan maksiat.
*Contoh :*
Ketika seseorang diuji dengan anaknya yang meninggal dan ia tetap bersabar, maka itu lebih berat dibandingkan ia bersabar untuk melakukan ketaatan seperti shalat subuh. Sehingga bisa jadi ganjaran sabar menghadapi musibah lebih baik.
*APA YANG DILAKUKAN KETIKA TERTIMPA MUSIBAH?*
*1. Memahami Tabiat Kehidupan*
Bahwa kehidupan isinya adalah ujian dan semua orang pasti diuji dan semua orag pasti pernah mengalami ujian dan ada sebagian orang yang sedang di uji.
Yakin bahwa tidak anda saja yang diuji, tetangga diuji, orang kafir diuji, orang beriman diuji bahkan bisa jadi ujian mereka lebih berat daripada ujian yang kita hadapi, karena sifat kehidupan adalah memberikan ujian kepada kehidupan tersebut.
Bahwasanya ini merupakan takdir yang telah Allah tetapkan 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi, jika Allah tetapkan ujian maka antum tidak mungkin dapat menghindarinya, jika satu dunia ingin menyelamatkan antum dari ujian tersebut itu tidak akan mampu.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ
“Hendaklah engkau tahu bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu. Dan segala sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu.”
(HR. Ahmad 5/185.)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ
“Pena telah diangkat dan lembaran catatan (di Lauhul Mahfuzh) telah kering”
(HR. Tirmidzi no. 2516.)
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
مَآ أَصَابَ مِنْ مُّصِيبَةٍ فِى الْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ أَنْ نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah"
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 22)
لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَآ ءَاتٰىكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
"Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri,"
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 23)
Jika seseorang mendapatkan istri yang buruk maka itu sudah termasuk takdir yang telah Allah tetapkan, dan disitulah terdapat nilai ibadah sabar dalam menghadapinya.
*2. Mendapatkan Dua Manfaat*
*a. Dihapuskan Dosa-dosanya*
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
لَا تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ، كَمَا يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ
“Janganlah Engkau mencela demam. Karena demam itu bisa menghilangkan kesalahan-kesalahan (dosa) manusia, sebagaimana kiir (alat yang dipakai pandai besi) bisa menghilangkan karat besi.”
(HR. Mus
lim no. 2575)
Jika demam saja dapat menggugurkan dosa, lantas bagaimana bila seseorang yang bersabar menghadapi ujian seperti banjir? maka akan lebih dihapuskan lagi dosa-dosanya apabila ia bersabar.
Dalam hadis dari Abu Musa al-Asy’ari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا ماتَ ولدُ العَبْدِ ، قالَ اللهُ لمَلَائِكَتِهِ : قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي؟ فَيَقُولُونَ : نَعَمْ . فَيَقُولُ: قَبَضْتُم ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ؟ فَيَقُولُونَ : نَعَمْ . فَيَقُولُ : مَاْذَا قالَ عَبْدِيْ؟ فَيَقُولُونَ : حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ . فَيَقُولُ اللّهُ : ابْنُوا لِعَبْدِيْ بَيْتًا فِيْ الجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بيتَ الحَمْدِ
“Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, maka Allah bertanya kepada malaikat, ‘Apakah kalian mencabut nyawa anak hamba-Ku?‘ Mereka menjawab, ‘Ya’. Allah bertanya lagi, ‘Apakah kalian mencabut nyawa buah hatinya?‘ Mereka menjawab, ‘Ya’. Allah bertanya lagi, ‘Apa yang diucapkan hamba-Ku?‘ Malaikat menjawab, ‘Dia memuji-Mu dan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raajiun‘. Kemudian Allah berfirman, ‘Bangunkan untuk hamba-Ku satu rumah di surga. Beri nama rumah itu dengan Baitul Hamdi (rumah pujian)‘.”
(HR. Tirmidzi 1037, Ibu Hibban 2948 dihasankan al-Albani)
Hendaknya jika seseorang tertimpa musibah maka mengucapkan kalimas istirja' (inna lillahi wa inna ilaihi raajiun).
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
الَّذِينَ إِذَآ أَصٰبَتْهُمْ مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رٰجِعُونَ
"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 156)
أُولٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
"Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 157)
Namun syaratnya adalah sabar, jika tidak sabar maka tidak menghapuskan dosa-dosanya bahkan semakin membuat dia terpuruk karena musibah itu bisa mendapatkan nikmat dan bisa mendapatkan adzab. Seseorang mendapatkan nikmat tatkala
seorang hamba ditimpa musibah semakin dekat dengan Allah, namun jika meronta-ronta, gelisah tidak menerima musibah maka akan mendatangkan adzab.
Dari Abu Said Al-Khudri dan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya”
(HR. Al-Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573).
Balasan minimal bagi seorang muslim yang tertimpa musibah, sekecil apapun musibah tersebut, maka Allah akan menghapuskan kesalahannya.
Namun, apabila ia mampu bersabar & mengharapkan pahala dari musibah tersebut, maka sesungguhnya ia akan mendapatkan tambahan kebaikan.
Kebanyakan manusia lalai mengharapkan pahala ketika mereka tertimpa musibah-musibah kecil seperti tertusuk duri.
*b. Diangkat Derajatnya*
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنْ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ فِي مَالِهِ أَوْ فِي وَلَدِهِ
“Sesungguhnya seorang hamba ketika didahului kedudukan tinggi di sisi Allah (surga), dimana amalannya tidak sampai (kepadaNya), maka Allah akan mengujinya di badan atau harta atau anaknya.”
(HR. Abu Dawud, (3090) dinyatakan shoheh Albani rahimahullah dalam Silsilah Shahihah, no. 2599.)
Kita sering beristighfar, namun kelemahan di zaman ini kita memiliki hp, membuka internet pasti akan melihat hal haram. Mungkin kita sering beristighfar seratus kali, mengucapkan sayyidul istighfar, namun kita tidak mengetahui apakah istighfar kita bisa menggugurkan dosa atau apakah kita serius tatkala beristighfar kita tidak tahu. Bisa jadi ada dosa yang kita tidak beristighfar
t-tingkat, dan dia akan merasa lebih ringan tatkala mengetahui ada orang yang mendapatkan musibah yang lebih berat darinya.
Semoga kawan kita yg diberi musibah oleh Allah subhanahu wata'ala bisa bersabar dan diberikan jalan keluar Allah, Aamiin.
Tentu datangnya musibah agar tidak sombong dan angkuh, sehingga dengan adanya musibah seorang hamba terasa lebih dekat dengan Allah, bisa jadi jika Allah tidak menimpakan seorang hamba dengan musibah maka akan terasa jauh dari Allah dan lalai untuk mengingat kematian, mengingat dosa-dosanya.
Kita harus paham bahwa kehidupan di dunia itu tidak selamanya dan kehidupan di dunia merupakan tempat ujian, sehingga ketika kita tertimpa musibah hendaknya bersabar karena ada nilai pahala yang begitu besar bagi orang yang bersabar.
Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan
"Pahala ditinjau bukan dari musibah yang Allah timpakan kepada hamba, akan tetapi dilihat dari sikap hamba terhadap musibah yang menimpa dirinya".
فَلْيُبَلِّغْ الشَاهِدُ الغَائِبَ
“Hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir.”
(HR. al-Bukhari dari Abu Bakar radhiyallahu 'anhu)
Semoga Allaah memberi petunjuk kepada kita semua untuk selalu ta'at kepadanya.
Wallaahu 'alam
Semoga Bermanfaat
بارك اللّه فيكم
Oleh : Doni Setio Pambudi (Abu Ubaidillah).
_*Masjid Al-Muchtar Karawang*_
بسم اللّه الرّحمٰن الرّحيم
📒Tema : Sabarlah..
🎓Pemateri : Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc, MA. _hafizhahullaah_
🕌 Tempat : Masjid Al-Muchtar Galuh Mas Karawang
📅 Tanggal : Sabtu, 07 Jumdil 'Ula 1441 H/ 04 Januari 2020 M
*Muqoddimah*
عَن عَطَاءُ بْنُ أَبِى رَبَاحٍ قَالَ قَالَ لِى ابْنُ عَبَّاسٍ أَلاَ أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى . قَالَ هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ إِنِّى أُصْرَعُ ، وَإِنِّى أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِى . قَالَ « إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ » . فَقَالَتْ أَصْبِرُ . فَقَالَتْ إِنِّى أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ أَنْ لاَ أَتَكَشَّفَ ، فَدَعَا لَهَا
Dari ‘Atho’ bin Abi Robaah, ia berkata bahwa Ibnu ‘Abbas berkata padanya, “Maukah kutunjukkan wanita yang termasuk penduduk surga?” ‘Atho menjawab, “Iya mau.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Wanita yang berkulit hitam ini, ia pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas ia pun berkata, “Aku menderita penyakit ayan dan auratku sering terbuka karenanya. Berdo’alah pada Allah untukku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Jika mau sabar, bagimu surga. Jika engkau mau, aku akan berdo’a pada Allah supaya menyembuhkanmu.” Wanita itu pun berkata, “Aku memilih bersabar.” Lalu ia berkata pula, “Auratku biasa tersingkap (kala aku terkena ayan). Berdo’alah pada Allah supaya auratku tidak terbuka.” Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun berdo’a pada Allah untuk wanita tersebut.
(HR. Bukhari no. 5652 dan Muslim no. 2576).
Ini merupakan contoh wanita penghuni surga yang ingin masuk surga karena kesabaran, ia memilih untuk sabar daripada disembuhkan dari sebuah penyakit yang dialaminya, karena wanita tersebut mengetahui bahwa dibalik kesabaran terdapat surga yang telah dijanjikan kepadanya. Ini merupakan dalil bahwa kesabaran dapat mendatangkan surga.
Ketika Allah memuji sifat Ibadurrahman pada surat Al-furqan.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
أُولٰٓئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلٰمًا
"Mereka itu akan diberi balasan dengan tempat yang tinggi (dalam surga) atas kesabaran mereka, dan di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam,"
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 75)
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولٰٓئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ
"Dan orang yang sabar karena mengharap keridaan Tuhannya, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),"
(QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 22)
جَنّٰتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ ءَابَآئِهِمْ وَأَزْوٰجِهِمْ وَذُرِّيّٰتِهِمْ وَالْمَلٰٓئِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِّنْ كُلِّ بَابٍ
"(yaitu) surga-surga 'Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama dengan orang yang saleh dari nenek moyangnya, pasangan-pasangannya dan anak cucunya, sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;"
(QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 23)
سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
"(sambil mengucapkan), Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu. Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu."
(QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 24)
Ini merupakan dalil bahwa kesabaran dapat mendatangkan surga, begitu banyak ayat-ayat di dalam al-qur'an yang menjelaskan tentang kesabaran hingga
Imam Ahmad rahimahullah berkata,
*"Di dalam al-Qur’an kata sabar disebutkan dalam 90 tempat lebih.* Sabar adalah bagian iman, sebagaimana kedudukan kepala bagi jasad. Sebab orang yang tidak punya kesabaran dalam menjalankan ketaatan, tidak punya kesabaran untuk menjauhi maksiat serta tidak sabar tatkala tertimpa takdir yang menyakitkan maka dia kehilangan banyak sekali bagian keimanan”
Ketahuilah bahwasannya satu ayat saja disebutk
an di dalam al-qur'an menunjukkan bahwa itu adalah ibadah yang agung lantas bagaimana jika disebutkan di dalam 90 tempat lebih?
Sehingga kesabaran merupakan ibadah yang Agung karena hidup di dunia ini penuh dengan ujian dan kita diciptakan oleh Allah hidup di dunia ini untuk diuji, mustahil jika ada seseorang hidup di dunia ini terlepas dari ujian karena Allah sendiri yang mengatakannya,
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
تَبٰرَكَ الَّذِى بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
"Maha Suci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,"
(QS. Al-Mulk 67: Ayat 1)
الَّذِى خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
"yang menciptakan mati dan hidup, *untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.* Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun,"
(QS. Al-Mulk 67: Ayat 2)
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
وَهُوَ الَّذِي خَلَق السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاء لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً
“Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah Arasy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya”
(QS. Huud 11: Ayat 7)
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
"Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik amalannya."
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 7)
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan"
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 35)
Selama kita hidup di dunia ini kita pasti tidak terlepas dari namanya ujian baik itu ujian keburukan, kemewahan, kemiskinan, kesusahan, harta, kesehatan kepintaran, dan yang lainnya, namun Allah mengingatkan bahwa kita akan dikembalikan untuk dimintai pertanggung jawaban.
Sebagian orang ada yang diuji dengan istrinya, ada yang diuji oleh orang tuanya, ada pula yang diuji oleh ibu mertuanya dan sebagainya.
Ada seorang wanita diuji dengan kesendiriannya *(jomblowati)*, ada pula wanita yang diuji dengan suami yang tidak bertanggung jawab, ada wanita yang diuji dengan belum memiliki seorang anak, ada wanita yang diuji oleh anaknya yang nakal dan terus-terus akan diuji,
Apalagi jika seorang beriman maka lebih dijadikan ujian oleh Allah, Allah subhanahu wata'ala berfirman:
الٓمٓ، أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوٓا أَنْ يَقُولُوٓا ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ، وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِينَ
"Alif Lam Mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, Kami telah beriman dan mereka tidak diuji?
Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta."
(QS. Al-'Ankabut 29: Ayat 1-3)
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَآءُ وَالضَّرَّآءُ وَزُلْزِلُوا حَتّٰى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُۥ مَتٰى نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَآ إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
"Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, Kapankah datang pertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 214)
Inilah tabiat kehidupan, bahwa tidak ada yang tidak Allah uji di dalam kehidupan ini, sehingga kita harus siap kapan
pun untuk di uji.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
لَآ أُقْسِمُ بِهٰذَا الْبَلَدِ، وَأَنْتَ حِلٌّۢ بِهٰذَا الْبَلَدِ، وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ، لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسٰنَ فِى كَبَدٍ
"Aku bersumpah dengan negeri ini (Mekah),
dan engkau (Muhammad), bertempat di negeri (Mekah) ini, dan demi (pertalian) bapak dan anaknya. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah."
(QS. Al-Balad 90: Ayat 1-4)
*APA ITU SABAR?*
Sabar artinya adalah "menahan", menahan hati, menahan lisan, dan menahan anggota badan.
Jangan sampai mengucapkan kata-kata protes dari apa yang Allah tetapkan,
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُوْدَ أَوْ شَقَّ الْجُيُوْبَ أَوْ دَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ
“Tidaklah termasuk golongan kami orang yang menampar pipi atau merobek-robek pakaian atau berteriak dengan teriakan Jahiliyah”.
(HR. Bukhari dah Muslim)
Ini menunjukkan bahwa orang tersebut tidaklah sabar, jika seseorang bisa menahan dari meronta-ronta maka baru dikatakan sabar karena ibadah sabar merupakan anugerah terbesar yang Allah berikan kepada seorang hamba,
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ
"Barangsiapa yang sungguh-sungguh berusaha untuk bersabar maka Allah akan memudahkan kesabaran baginya. Dan tidaklah sesorang dianugerahkan (oleh Allah subhanahu wat’ala ) pemberian yang lebih baik dan lebih luas (keutamaannya) dari pada (sifat) sabar."
(HR. Bukhari, 6105 dan Muslim, 1053)
Orang yang bersabar memperoleh pahala tanpa batas, Allah subhanahu wata'ala berfirman:
قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِى هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
"Katakanlah (Muhammad), Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu. Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan Bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas."
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 10)
*BENTUK-BENTUK SABAR*
Sabar dapat dibagi menjadi tiga macam:
1. Sabar dalam melaksanakan perintah dan ketaatan.
2. Sabar dalam menahan diri dari perbuatan dosa dan maksiat.
3. Sabar dalam menghadapi musibah.
Menahan hati dari perasaan marah, kesal, terhadap ketentuan Allah.
Menahan lisan dari berkeluh kesah dan menggerutu akan takdir Allah.
Menahan anggota badan dari bermaksiat seperti menyobek pakaian atau perbuatan lain yang menunjukkan sikap ‘tidak terima’ terhadap keputusan Allah.
◆Ini disebutkan oleh para ulama, mana yang lebih baik? Terdapat khilaf para ulama
Ada yang mengatakan sabar menjalankan ketaatan dan meninggalkan maksiat lebih baik dibandingkan sabar ketika menghadapi musibah, kenapa demikian?
Karena jika sabar menjalankan ketaatan dan meninggalkan maksiat merupakan sabar pilihan, adapun sabar menghadapi musibah merupakan sabar terpaksa sehingga harus menjalankannya mau tidak mau.
*Contoh :*
◆Orang yang bersabar melakukan ketaatan ketika bangun subuh, maka disini terdapat pilihan dimana ia bisa bangun untuk shalat subuh dan dia bisa lanjut untuk tidur kembali, jika dia pergi shalat maka dia telah bersabar dalam melaksanakan ketaatan.
◆Orang yang bersabar meninggalkan maksiat dimana dia memiliki celah untuk melihat situs yang haram di internet yang ada di HP, namun ia memilih untuk meninggalkannya dibandingkan menontonnya maka ia telah bersabar dalam melakukan ketaatan.
Adapun sabar ketika tertimpa musibah merupakan sabar yang terpaksa dan tidak memiliki pilihan, mau tidak mau harus menerima musibah tersebut dan tidak bisa menolaknya.
Sehingga dari sisi ini sabar melaksanakan ketaatan dan meninggalkan maksiat ini lebih afdhal dibandingkan sabar ketika menimpa musibah.
Sebagaimana sabar nabi Yusuf ketika digoda oleh istri penguasa Mesir saat itu lebih afdhal dibandingkan ia dimasukkan ke dalam sumur dan juga dipenjara, karena sabar ketika digoda oleh istri penguasa terdapat sebuah pili
han.
Namun, jika tinjau dari kenyataa ini tidak mesti,
Sebagai contoh bid'ah lebih buruk dari maksiat kenapa?
karena orang yang melakukan bid'ah tidak merasa bahwa dirinya bersalah, ia menganggap dirinya benar namun orang melakukan maksiat menyadari bahwa dirinya salah dan suatu saat bisa bertaubat.
Dari sisi jenis bidah lebih buruk daripada maksiat,
Namun dari sisi praktek bisa saja tidak demikian, sebagai contoh orang yang melakukan maksiat zina bisa lebih buruk daripada berbuat bid'ah tahlilan, sehingga orang yang melakukan zina (bagi yang sudah menikah) harus di rajam sampai mati dsb, dan ketahuilah suatu perbuatan dosa yang bisa dihukumi sampai mati merupakan dosa yang besar.
Kesabaran dalam menahan ketaatan lebih afdahl dari musibah karena taat merupakan pilihan,
Sama seperti halnya orang yang berzuhud, maka orang yang tidak memiliki uang (miskin) pasti melakukan zuhud karena ia terpaksa karena tidak memiliki uang, berbeda dengan halnya orang yang memiliki harta namun ia tetap zuhud dan bersedekah, maka inilah sabar yang pilihan.
Namun di dalam praktek, bisa jadi sabar menghadapi musibah lebih afdhal daripada sabar melakukan ketaatan atau meninggalkan maksiat.
*Contoh :*
Ketika seseorang diuji dengan anaknya yang meninggal dan ia tetap bersabar, maka itu lebih berat dibandingkan ia bersabar untuk melakukan ketaatan seperti shalat subuh. Sehingga bisa jadi ganjaran sabar menghadapi musibah lebih baik.
*APA YANG DILAKUKAN KETIKA TERTIMPA MUSIBAH?*
*1. Memahami Tabiat Kehidupan*
Bahwa kehidupan isinya adalah ujian dan semua orang pasti diuji dan semua orag pasti pernah mengalami ujian dan ada sebagian orang yang sedang di uji.
Yakin bahwa tidak anda saja yang diuji, tetangga diuji, orang kafir diuji, orang beriman diuji bahkan bisa jadi ujian mereka lebih berat daripada ujian yang kita hadapi, karena sifat kehidupan adalah memberikan ujian kepada kehidupan tersebut.
Bahwasanya ini merupakan takdir yang telah Allah tetapkan 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi, jika Allah tetapkan ujian maka antum tidak mungkin dapat menghindarinya, jika satu dunia ingin menyelamatkan antum dari ujian tersebut itu tidak akan mampu.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ
“Hendaklah engkau tahu bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu. Dan segala sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu.”
(HR. Ahmad 5/185.)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ
“Pena telah diangkat dan lembaran catatan (di Lauhul Mahfuzh) telah kering”
(HR. Tirmidzi no. 2516.)
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
مَآ أَصَابَ مِنْ مُّصِيبَةٍ فِى الْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ أَنْ نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah"
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 22)
لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَآ ءَاتٰىكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
"Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri,"
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 23)
Jika seseorang mendapatkan istri yang buruk maka itu sudah termasuk takdir yang telah Allah tetapkan, dan disitulah terdapat nilai ibadah sabar dalam menghadapinya.
*2. Mendapatkan Dua Manfaat*
*a. Dihapuskan Dosa-dosanya*
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,
لَا تَسُبِّي الْحُمَّى، فَإِنَّهَا تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ، كَمَا يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ
“Janganlah Engkau mencela demam. Karena demam itu bisa menghilangkan kesalahan-kesalahan (dosa) manusia, sebagaimana kiir (alat yang dipakai pandai besi) bisa menghilangkan karat besi.”
(HR. Mus
lim no. 2575)
Jika demam saja dapat menggugurkan dosa, lantas bagaimana bila seseorang yang bersabar menghadapi ujian seperti banjir? maka akan lebih dihapuskan lagi dosa-dosanya apabila ia bersabar.
Dalam hadis dari Abu Musa al-Asy’ari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا ماتَ ولدُ العَبْدِ ، قالَ اللهُ لمَلَائِكَتِهِ : قَبَضْتُمْ وَلَدَ عَبْدِي؟ فَيَقُولُونَ : نَعَمْ . فَيَقُولُ: قَبَضْتُم ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ؟ فَيَقُولُونَ : نَعَمْ . فَيَقُولُ : مَاْذَا قالَ عَبْدِيْ؟ فَيَقُولُونَ : حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ . فَيَقُولُ اللّهُ : ابْنُوا لِعَبْدِيْ بَيْتًا فِيْ الجَنَّةِ وَسَمُّوهُ بيتَ الحَمْدِ
“Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, maka Allah bertanya kepada malaikat, ‘Apakah kalian mencabut nyawa anak hamba-Ku?‘ Mereka menjawab, ‘Ya’. Allah bertanya lagi, ‘Apakah kalian mencabut nyawa buah hatinya?‘ Mereka menjawab, ‘Ya’. Allah bertanya lagi, ‘Apa yang diucapkan hamba-Ku?‘ Malaikat menjawab, ‘Dia memuji-Mu dan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raajiun‘. Kemudian Allah berfirman, ‘Bangunkan untuk hamba-Ku satu rumah di surga. Beri nama rumah itu dengan Baitul Hamdi (rumah pujian)‘.”
(HR. Tirmidzi 1037, Ibu Hibban 2948 dihasankan al-Albani)
Hendaknya jika seseorang tertimpa musibah maka mengucapkan kalimas istirja' (inna lillahi wa inna ilaihi raajiun).
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
الَّذِينَ إِذَآ أَصٰبَتْهُمْ مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رٰجِعُونَ
"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 156)
أُولٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
"Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 157)
Namun syaratnya adalah sabar, jika tidak sabar maka tidak menghapuskan dosa-dosanya bahkan semakin membuat dia terpuruk karena musibah itu bisa mendapatkan nikmat dan bisa mendapatkan adzab. Seseorang mendapatkan nikmat tatkala
seorang hamba ditimpa musibah semakin dekat dengan Allah, namun jika meronta-ronta, gelisah tidak menerima musibah maka akan mendatangkan adzab.
Dari Abu Said Al-Khudri dan dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu kelelahan, atau penyakit, atau kehawatiran, atau kesedihan, atau gangguan, bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya karenanya”
(HR. Al-Bukhari no. 5642 dan Muslim no. 2573).
Balasan minimal bagi seorang muslim yang tertimpa musibah, sekecil apapun musibah tersebut, maka Allah akan menghapuskan kesalahannya.
Namun, apabila ia mampu bersabar & mengharapkan pahala dari musibah tersebut, maka sesungguhnya ia akan mendapatkan tambahan kebaikan.
Kebanyakan manusia lalai mengharapkan pahala ketika mereka tertimpa musibah-musibah kecil seperti tertusuk duri.
*b. Diangkat Derajatnya*
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنْ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ فِي مَالِهِ أَوْ فِي وَلَدِهِ
“Sesungguhnya seorang hamba ketika didahului kedudukan tinggi di sisi Allah (surga), dimana amalannya tidak sampai (kepadaNya), maka Allah akan mengujinya di badan atau harta atau anaknya.”
(HR. Abu Dawud, (3090) dinyatakan shoheh Albani rahimahullah dalam Silsilah Shahihah, no. 2599.)
Kita sering beristighfar, namun kelemahan di zaman ini kita memiliki hp, membuka internet pasti akan melihat hal haram. Mungkin kita sering beristighfar seratus kali, mengucapkan sayyidul istighfar, namun kita tidak mengetahui apakah istighfar kita bisa menggugurkan dosa atau apakah kita serius tatkala beristighfar kita tidak tahu. Bisa jadi ada dosa yang kita tidak beristighfar
t-tingkat, dan dia akan merasa lebih ringan tatkala mengetahui ada orang yang mendapatkan musibah yang lebih berat darinya.
Semoga kawan kita yg diberi musibah oleh Allah subhanahu wata'ala bisa bersabar dan diberikan jalan keluar Allah, Aamiin.
Tentu datangnya musibah agar tidak sombong dan angkuh, sehingga dengan adanya musibah seorang hamba terasa lebih dekat dengan Allah, bisa jadi jika Allah tidak menimpakan seorang hamba dengan musibah maka akan terasa jauh dari Allah dan lalai untuk mengingat kematian, mengingat dosa-dosanya.
Kita harus paham bahwa kehidupan di dunia itu tidak selamanya dan kehidupan di dunia merupakan tempat ujian, sehingga ketika kita tertimpa musibah hendaknya bersabar karena ada nilai pahala yang begitu besar bagi orang yang bersabar.
Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan
"Pahala ditinjau bukan dari musibah yang Allah timpakan kepada hamba, akan tetapi dilihat dari sikap hamba terhadap musibah yang menimpa dirinya".
فَلْيُبَلِّغْ الشَاهِدُ الغَائِبَ
“Hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir.”
(HR. al-Bukhari dari Abu Bakar radhiyallahu 'anhu)
Semoga Allaah memberi petunjuk kepada kita semua untuk selalu ta'at kepadanya.
Wallaahu 'alam
Semoga Bermanfaat
بارك اللّه فيكم
Oleh : Doni Setio Pambudi (Abu Ubaidillah).
Komentar
Posting Komentar